Pernahkah kamu bertanya-tanya, di tengah isu "daya beli turun" yang sering digaungkan, kenapa barang-barang unik seperti baju kucing atau skin game justru laku keras? Di balik data ekonomi konvensional, ternyata ada realitas baru yang sedang terbentuk di Indonesia. Perilaku konsumen kita telah bergeser drastis ke arah e-Conomy (ekonomi digital), sebuah fenomena yang sering luput dari radar pengamatan tradisional.
Fakta menariknya, keinginan membeli (willingness to spend) masyarakat Indonesia ternyata masih sangat kuat, bahkan bisa lebih dominan daripada daya beli itu sendiri untuk kategori tertentu. Di tahun 2025, ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai nilai fantastis 100 miliar Dolar AS. Pertumbuhan ini bukan lagi sekadar tren sesaat, melainkan sebuah transformasi fundamental yang didorong oleh lima sektor utama: e-commerce, transportasi online, travel online, media online, dan layanan keuangan digital.
Video Commerce: Raja Baru Belanja Online
Salah satu pendorong terbesar pertumbuhan e-commerce di Indonesia bukanlah toko online biasa, melainkan video commerce. Transaksi melalui video tercatat mencapai 2,6 miliar dengan pertumbuhan 90% per tahun. Orang Indonesia tidak lagi hanya belanja barang, tapi mereka "belanja konten". Kepercayaan terhadap kreator konten menjadi kunci; ketika seorang kreator merekomendasikan produk, penonton merasa lebih yakin untuk membeli karena adanya unsur kedekatan dan hiburan.
YouTube Shopping, misalnya, mencatat kenaikan konten belanja hingga 400% dalam setahun terakhir. Ini membuktikan bahwa platform video bukan lagi sekadar tempat hiburan, tapi ekosistem belanja yang masif. Kreator konten kini memiliki peran ganda sebagai entertainer sekaligus salesperson yang efektif, menjadikan video commerce sebagai ladang cuan baru yang sangat menjanjikan bagi siapa saja yang berani tampil dan kreatif.
Revolusi Pembayaran: Dominasi Cashless dan QRIS
Pergeseran perilaku juga terjadi secara signifikan di sektor pembayaran. Saat ini, sekitar 60% transaksi di Indonesia sudah dilakukan secara non-tunai (cashless), meninggalkan uang tunai yang hanya berkontribusi 40%. QRIS menjadi pahlawan utama dalam revolusi ini, membuat pembayaran digital menjadi sangat mudah dan merakyat, bahkan hingga ke pedagang kecil dan supir taksi di negara tetangga yang mulai mengenali sistem ini.
Kemudahan "tinggal klik" dan "tinggal tap" ini menjadi salah satu kaki penggerak utama ekonomi digital. Tanpa perlu antre di bank atau repot membawa uang tunai, perputaran uang menjadi lebih cepat dan efisien. Fenomena ini juga didukung oleh ekosistem layanan keuangan digital (fintech) yang semakin variatif, meskipun tantangan kepercayaan (trust) masih menjadi PR besar, terutama bagi pemain baru dibandingkan bank konvensional.
Ledakan Adopsi AI: Indonesia Juara Dunia
Siapa sangka, Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat adopsi dan optimisme tertinggi terhadap Artificial Intelligence (AI) di dunia. Penggunaan fitur AI generatif untuk membuat gambar, teks, hingga video meningkat pesat. Bahkan, pendapatan aplikasi yang menggunakan fitur AI naik hingga 127%, menunjukkan bahwa orang Indonesia rela membayar demi kemudahan dan kecanggihan teknologi ini.
Namun, tantangan terbesarnya adalah menggeser peran kita dari sekadar konsumen menjadi kreator atau pengembang (developer). Meskipun jumlah startup di Indonesia cukup banyak (sekitar 45 startup), kita masih tertinggal jauh dibandingkan Singapura. Oleh karena itu, penting bagi generasi muda untuk tidak hanya jago memakai AI, tapi juga mampu menciptakan solusi berbasis AI yang relevan dengan kebutuhan pasar lokal.
Gaming: Bukan Sekadar Mainan Anak Kecil
Dunia gaming di Indonesia bukan lagi sekadar hobi anak-anak. Data menunjukkan bahwa Indonesia menyumbang 40% dari total unduhan mobile game di Asia Tenggara. Gamers kini datang dari berbagai kalangan usia dan gender, termasuk wanita dan kaum milenial yang sudah bekerja. Pembelian in-game items seperti skin karakter menjadi salah satu sumber pendapatan besar yang sering tidak terdeteksi dalam survei ekonomi konvensional.
Fenomena ini membuka mata para orang tua dan ekonom bahwa dunia virtual memiliki nilai ekonomi nyata. Apa yang dulu dianggap buang-buang uang, kini menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas digital. Industri gaming telah berkembang menjadi ekosistem raksasa yang melibatkan pengembang, pemain, hingga kreator konten gaming, menciptakan peluang ekonomi baru yang sangat potensial.
Waspada Deepfake dan Literasi Digital
Di balik kemeriahan teknologi, ada sisi gelap yang harus diwaspadai: penyebaran deepfake dan misinformasi. Dengan kecanggihan AI, wajah dan suara tokoh publik bisa ditiru dengan sangat presisi untuk tujuan penipuan, seperti video palsu tokoh terkenal yang mempromosikan investasi bodong. Hal ini menuntut masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dan kemampuan berpikir kritis.
Jangan mudah percaya pada konten yang beredar di media sosial tanpa verifikasi. Selalu cek kebenaran informasi dari sumber berita resmi atau otoritatif. Kemampuan memilah informasi yang benar dan palsu akan menjadi skill pertahanan diri yang wajib dimiliki di era digital yang semakin canggih dan manipulatif ini.
Pesan untuk Gen Z: Tangkap Peluang, Jangan Jadi Penonton
Ekonomi digital adalah ladang emas bagi generasi muda. Dengan tingkat pengangguran kaum muda yang masih cukup tinggi, sektor ini menawarkan jalan keluar melalui penciptaan lapangan kerja baru yang fleksibel dan kreatif. Mulai dari menjadi kreator konten, pengembang aplikasi, hingga spesialis AI, peluangnya terbuka lebar bagi mereka yang mau belajar dan beradaptasi.
Kuncinya adalah terus belajar (stay relevant). Gabungkan ilmu dasar yang kamu miliki—entah itu ekonomi, kimia, atau seni dengan kemampuan AI untuk menciptakan inovasi baru. Jangan hanya menjadi penonton di era keemasan ekonomi digital ini. Jadilah pemain aktif yang memanfaatkan setiap fitur teknologi untuk berkarya dan membangun kemandirian finansial. Masa depan ada di tangan mereka yang berani mencoba hal baru.