Banyak dari kita sering merasa lelah padahal tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Rasa lelah ini sebenarnya bukan berasal dari otot, melainkan dari pikiran yang tidak stabil. Bertrand Russell, seorang filsuf ternama, menjelaskan bahwa sumber kelelahan terbesar manusia modern adalah kecemasan akan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Keragu-raguan yang terus-menerus, seperti sekadar bingung memilih menu makan atau memutuskan hal sepele, bisa menyedot energi mental yang luar biasa.
Hidup yang dipenuhi keraguan akan terasa sangat melelahkan. Fenomena yang kini sering disebut sebagai overthinking ini membuat kita terjebak dalam perdebatan batin yang tak berujung. Padahal, jika kita mampu memilah mana yang penting dan mana yang tidak, beban hidup akan terasa jauh lebih ringan. Berikut adalah panduan filosofis untuk membersihkan pikiran dari sampah kecemasan agar hidup menjadi lebih bahagia dan bermakna.
Lelah Mental Akibat Keraguan yang Tidak Perlu
Pernahkah Anda merasa habis energi hanya karena memikirkan pilihan-pilihan sederhana? Russell menyoroti bahwa ketidakmampuan untuk mengambil keputusan cepat pada hal-hal kecil adalah sumber kelelahan yang fatal. Misalnya, seorang mahasiswa yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menimbang-nimbang apakah harus bolos kuliah atau tidak. Padahal, energi yang habis untuk keraguan itu jauh lebih besar daripada konsekuensi dari pilihan itu sendiri.
Kecemasan seringkali muncul karena kita terlalu mendramatisir dampak dari sebuah keputusan. Kita membayangkan skenario terburuk untuk masalah yang sebenarnya sepele, seperti memilih warung makan. Padahal, kebijaksanaan terletak pada kemampuan untuk mengetahui kapan harus berpikir keras dan kapan harus berhenti berpikir. Orang bijak tahu caranya mengistirahatkan pikiran saat masalah sudah tidak bisa diapa-apakan lagi atau saat malam tiba, sehingga esok hari ia bangun dengan energi yang segar, bukan sisa kelelahan kemarin.
Obsesi Kerja dan Ketakutan akan Liburan
Salah satu tanda gangguan jiwa yang halus menurut Russell adalah keyakinan berlebihan bahwa pekerjaan seseorang sangatlah penting hingga ia merasa tidak boleh berlibur. Banyak orang merasa cemas jika tidak bekerja keras terus-menerus, seolah-olah dunia akan runtuh jika ia berhenti sejenak. Akibatnya, bahkan saat liburan atau healing, pikirannya tetap tersandera oleh tugas dan masa depan yang belum terjadi.
Mentalitas seperti ini membuat seseorang tidak bisa menikmati momen saat ini (the present moment). Saat diajak jalan-jalan, bukannya menikmati pemandangan, ia malah merasa bersalah dan menganggap itu membuang-buang waktu. Jika seorang dokter menganut filosofi Russell, pasien seperti ini justru akan diresepkan "liburan panjang". Ingatlah, manusia butuh keseimbangan. Ada waktunya gas, ada waktunya rem. Hidup yang hanya berisi kerja tanpa jeda istirahat adalah resep pasti menuju ketidakbahagiaan.
Racun Kebahagiaan Bernama Iri dan Dengki
Iri hati adalah penyakit universal yang paling efektif membunuh kebahagiaan. Russell membedakan antara rasa tertantang (ghirah) dengan iri. Tertantang berarti ingin menjadi baik seperti orang lain, sedangkan iri berarti tidak rela orang lain mendapatkan kebaikan. Orang yang iri tidak fokus pada bagaimana cara menaikkan level dirinya, melainkan sibuk memikirkan bagaimana cara menjatuhkan orang lain agar setara dengan dirinya yang di bawah.
Tingkatan yang lebih parah dari iri adalah dengki. Orang yang dengki rela dirinya hancur asalkan orang lain juga ikut hancur. Mentalitas ini digambarkan seperti perilaku setan yang rela dilaknat asalkan punya teman di neraka. Dalam kehidupan sehari-hari, ini terlihat dari orang yang senang menyebar hoaks atau menjatuhkan reputasi orang lain. Selama kita masih membandingkan diri dengan orang yang lebih sukses, kita tidak akan pernah bahagia. Obatnya hanyalah berhenti melihat keluar dan mulai mensyukuri apa yang ada di dalam genggaman.
Rasa Bersalah yang Menghantui (Guilty Feeling)
Perasaan berdosa yang berkepanjangan adalah musuh besar ketenangan jiwa. Tentu, mengakui kesalahan dan bertaubat adalah hal yang mulia. Namun, terus-menerus merasa rendah diri dan menghukum diri sendiri atas kesalahan masa lalu justru tidak produktif. Rasa bersalah yang berlebihan membuat seseorang menjadi was-was dalam melangkah, seolah-olah setiap kesialan yang terjadi hari ini adalah hukuman atas dosa masa lampau.
Psikologi agama mengajarkan konsep taubat: akui kesalahan, perbaiki, dan jangan ulangi, lalu move on. Jangan biarkan dosa masa lalu menyandera masa depanmu. Manusia memiliki karunia "lupa" yang seharusnya disyukuri, karena jika kita mengingat setiap detail dosa setiap detik, kita akan stres dan tidak bisa berfungsi. Hiduplah dengan kesadaran untuk memperbaiki diri, bukan dengan mentalitas terpidana yang terus-menerus merasa dikejar kesalahan.
Delusi Persecution Mania: Merasa Selalu Menjadi Korban
Ada sebuah kondisi mental yang disebut Persecution Mania, yaitu perasaan delusi bahwa orang lain selalu berniat jahat atau ingin mencelakai kita. Orang dengan mentalitas ini selalu merasa menjadi korban; jika ada orang berbisik, ia yakin sedang digunjingkan. Jika ada orang tertawa, ia merasa sedang ditertawakan. Ia merasa dirinya "paling suci" dan orang lainlah yang jahat, padahal mungkin ia sendiri juga sering berbuat salah pada orang lain.
Russell memberikan tips untuk mengatasi perasaan ini: ingatlah bahwa kita tidak sebaik yang kita kira, dan kita juga tidak se-penting yang kita bayangkan. Dunia tidak berputar mengelilingi kita. Orang lain punya masalahnya sendiri yang jauh lebih mendesak bagi mereka daripada memikirkan kita. Teman yang menggosipkan kita hari ini, besok sudah akan sibuk memikirkan tagihan listriknya sendiri. Menyadari bahwa kita "tidak terlalu penting" di mata orang lain sebenarnya membebaskan kita dari rasa paranoid yang menyiksa.
Penjara Opini Publik: Hidup Sesuai Versi Sendiri
Kunci utama ketidakbahagiaan adalah terlalu peduli pada apa kata orang. Ketakutan akan opini publik membuat seseorang kehilangan jati dirinya. Kita menjadi seperti kisah Nasrudin dan keledainya: naik keledai salah, jalan kaki salah, menggendong keledai pun tetap salah di mata orang. Komentar orang tidak akan pernah ada habisnya dan seringkali tidak berdasar pada pemahaman yang utuh tentang kondisi kita.
Boleh saja mendengarkan pendapat orang lain, namun batasi hanya pada hal-hal krusial (seperti nasihat agar tidak kelaparan atau tidak masuk penjara). Selebihnya, jalanilah hidup sesuai prinsip dan kenyamananmu sendiri. Jika kamu terus menunggu persetujuan semua orang untuk bertindak, kamu akan berakhir diam di tempat, bingung, dan lelah. Kebahagiaan hanya bisa diraih oleh mereka yang berani menjadi diri sendiri dan tidak menjadikan validasi orang lain sebagai tujuan hidup.